Wilayah perbukitan di Desa Simpang Kuta Buluh, Kecamatan Sei Bingei, Kabupaten Langkat, memiliki tingkat kerentanan yang sangat tinggi terhadap ancaman bencana hidrometeorologi, seperti tanah longsor dan angin puting beliung. Kondisi geografis desa yang dikelilingi lereng curam serta dialiri alur air permukaan membuat infrastruktur publik kerap mengalami kerusakan akibat erosi dan pergerakan tanah saat curah hujan meningkat. Kerusakan yang terjadi secara berulang ini pada akhirnya memicu pemborosan anggaran desa karena dana yang ada habis hanya untuk pembenahan fisik infrastruktur secara terus-menerus. Hal tersebut berdampak langsung pada kesejahteraan ekonomi warga yang berisiko terperosok ke dalam kemiskinan akibat rusaknya akses serta sarana pendukung perekonomian. Langkah mitigasi ini sejalan dengan komitmen SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), di mana perlindungan terhadap aset penting publik desa bertujuan untuk menjaga kestabilan ekonomi serta melindungi penghidupan masyarakat rentan dari kerugian materiil akibat bencana alam.

Sebagai respons atas kerentanan tersebut, Tim Pengabdian Kolaborasi Perguruan Tinggi yang melibatkan Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Terbuka (UT), dan Universitas Andalas (UNAND) menyalurkan bantuan bibit tanaman khusus sebagai bentuk intervensi mitigasi ekologis berbasis masyarakat. Penyerahan dan penanaman bibit tanaman penguat lereng ini difokuskan pada titik-titik rawan pergerakan tanah untuk memperkokoh struktur tanah secara alami. Sistem perakaran vegetasi yang kuat terbukti efektif menahan laju erosi tanah serta menstabilkan lereng perbukitan tatkala hujan deras menerjang kawasan tersebut. Aksi hijau ini secara langsung mendukung SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui pendekatan keberlanjutan lingkungan; vegetasi yang terjaga tidak hanya mencegah longsor yang merusak lahan pertanian warga, tetapi juga menjaga kesuburan tanah dan ekosistem lokal demi menjamin ketahanan pangan masyarakat desa dalam jangka panjang.
Melalui pendampingan teknis pemetaan berbasis Geographic Information System (GIS) dan GPS, aparatur desa diajarkan cara mengidentifikasi, mendokumentasikan, dan mengklasifikasikan tingkat risiko kerusakan aset publik vital, seperti kantor desa, jalan, fasilitas kesehatan, sekolah, hingga tempat ibadah, ke dalam platform peta digital desa. Pelatihan hands-on ini mentransfer pengetahuan langsung agar perangkat desa mampu mengoperasikan dan melakukan pemutakhiran data kondisi fisik aset secara mandiri dan real-time. Edukasi ini merujuk pada prinsip SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), di mana inklusi ilmu pengetahuan dan literasi teknologi geospasial diberikan secara praktis untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di tingkat lokal agar tanggap dalam mengelola kawasan berbasis risiko bencana.

Upaya integratif antara mitigasi vegetatif melalui penyaluran bibit tanaman dan edukasi pemeliharaan aset digital ini memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan standar keselamatan serta kesehatan lingkungan warga. Kehadiran peta digital yang dilengkapi dengan informasi titik kumpul dan jalur evakuasi secara langsung memperkuat sistem tanggap darurat dan meminimalisasi risiko korban jiwa saat cuaca ekstrem terjadi. Perlindungan fisik aset kesehatan dan sarana umum desa dari ancaman longsor menjamin pelayanan publik tetap berjalan tanpa hambatan. Inisiatif ini selaras dengan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), yang menekankan pentingnya menciptakan lingkungan permukiman yang aman, mengurangi faktor risiko cedera atau kematian akibat bencana, serta menjamin aksesibilitas masyarakat terhadap sarana dan prasarana kesehatan lingkungan yang berkelanjutan.
Pelaksanaan program pengabdian di Desa Simpang Kuta Buluh ini menjadi bukti konkret penguatan kapasitas kelembagaan lokal melalui sinergi multidisiplin ilmu. Dengan adanya wawasan baru mengenai pemeliharaan aset yang terintegrasi, pemerintah desa kini dapat mengalihkan alokasi Dana Desa ke arah program pemberdayaan yang lebih produktif ketimbang terus-menerus melakukan perbaikan fisik infrastruktur yang rusak akibat bencana. Pola tata kelola aset publik ini menerapkan prinsip build back better, safer, and sustainable sehingga Desa Simpang Kuta Buluh mampu bertransformasi menjadi desa mandiri yang memiliki benteng pertahanan bencana yang kokoh, baik secara ekologis maupun secara tata kelola data spasial. Keberhasilan tata kelola aset berbasis mitigasi ini diharapkan dapat menjadi model percontohan (role model) bagi desa-desa lainnya di Kabupaten Langkat dan Sumatera Utara.
Keseluruhan keberhasilan aksi mitigasi dan edukasi tata kelola aset ini tidak terlepas dari penerapan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Kolaborasi strategis yang digagas oleh Dr. Lasma Melinda Siahaan, S.E., M.Si. bersama Prof. Dr. Elisabet Siahaan (USU), Yasir Riady, S.S., M.Hum. (UT), Dan Prof. Ir. Taufika Ophiyandri, Ph.D. (UNAND) yang berkoordinasi erat dengan Kepala Desa Agustinus Tarigan serta warga setempat mencerminkan pentingnya sinergi lintas sektor. Integrasi ilmu manajemen aset, analisis geospasial, dan keahlian mitigasi kebencanaan dari ketiga perguruan tinggi tersebut menjembatani teori akademis dengan kebutuhan nyata masyarakat di lapangan. Kemitraan gotong royong antara akademisi, pemerintah desa, dan tokoh masyarakat lokal inilah yang menjadi fondasi utama dalam mewujudkan pembangunan desa yang adaptif, aman, dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.